MAJENE – Sepekan terakhir harga solar di Majene alami kelangkaan bersamaan denga lonjakan harga membuat para nelayan di Pangali – Ali kesulitan untuk melaut, Sabtu 16 Mei 2026.
Kelangkaan dan lonjakan harga secara tiba tiba itu bukan hanya dirasakan nelayan berada di Pangali – Ali saja. Melainkan, seluruh nelayan di Majene keluhkan hal serupa.
Menurut Rusman, kondisi solar langkah dan mengikuti lonjakan harga membuat kita para nelayan kesulitan untuk melaut.
“Masalah ini bukan cuman kami saja alami. Seluruh nelayan ada di Majene,” ungkap pemilik kapal Sinar Wahyu.
Nelayan biasanya mudah mendapatkan solar untuk melaut. Sekarang justru harus ikut antrian pukul 03.00 dini hari di SPBU.
Ironisnya, kendati ikut antrian di SPBU, biasa juga kita tidak kebagian jatah solar untuk digunakan melaut.
Rusman meminta pihak Pemkab dan Pemprov Sulbar membuat formulasi khusus untuk kemudian memudahkan nelayan mendapatkan solar.
Keluhan sama dirasakan nelayan berada di Totolisi Kecamatan Sendana juga alami kelangkaan solar bersamaan lonjakan harga tidak wajar.
Ia katakan, kalau mau melaut saya harus berkeliling untuk mencari solar di seputaran Sendana. “Kadang dapat, biasa juga benar – benar tidak dapat,” ujar pemilik perahu bernama sitinayae.
Fakta lain disebutkan soal aktivitas di SPBU para mobil pick up dan motor tiga roda (Bentor) membuat solar dengan jumlah tidak wajar. Padahal, pemerintah telah membuat aturan tentang pembatasan penggunaan solar bagi nelayan.
“Pihak kepolisian diminta turun lapangan melihat kondisi reel tak masuk akal kadang terjadi di SPBU bisa saja menjadi penyebab kelangkaan solar,” (rls/as)














