MAJENE – Yudi Sudirman, legislator asal Kecamatan Malunda, fraksi Partai Amanat Nasional layangkan intrupsi di paripurna Hari Jadi Majene Ke – 481 Tahun, Sabtu 15 Agustus 2026.
Di jajaran tamu Paripurna HJM, diantaranya, Sekprov Sulbar, Bupati dan Wakil Bupati Majene, soroti akses jalan penghubung Desa Lombang Timur dan Salutahongan.
Sorotan itu, bukan hal baru disampaikan Yudi, melainkan juga pernah disampaikan saat momentum HJM di tahun 2025 lalu. Namun, setelah berjalan setahun usai disampaikan masyarakat disana masih tetap hadapi hal serupa.
“Persoalan ini sudah pernah saya sampaikan dimomentum HJM 2025 lalu. Selain itu, juga ada beberapa ruas jalan di Kecamatan Ulumanda,” ungkap Yudi Sudirman.
Dirinya menilai potret demikian masih menunjukkan adanya pembangunan belum benar benar menyentuh kebutuhan masyarakat diwilayah pelosok.
Lebih ironis, persoalan jalan sekedar soal kendaraan sulit melintas. Ini menyangkut keselamatan dan akses masyarakat atas pelayanan dasar harus dinikmati.
Sisi lain, Yudi ungkapkan ketika ada warga sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Masyarakat terpaksa ditandu beberapa kilometer agar bisa keluar dari wilayah tersebut.
“Kondisi demikian harusnya tidak boleh terus berulang di tiap tahunnya, tanpa adanya kejelasan penyelesaian oleh pemerintah,” ujarnya.
Ia meminta persoalan akses jalan tersebut mendapatkan perhatian serius, bukan hanya dari Pemkab Majene, melainkan juga Pemprov Sulbar, mengingat konektivitas antarwilayah menjadi bagian penting dalam pemerataan pembangunan.
“Kami berharap agar kondisi ini dapat menjadi perhatian serius dan memperoleh tindaklanjut nyata. Sehingga tidak terus menjadi permintaan berulang dari rapat ke rapat hingga paripurna ke paripurna,” tegas Yudi Sudirman.
Baginya HJM bukan sekedar seremonial, tepuk tangan dan pidato. Momentum itu harus menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa belum selesai dan apa masih dirasakan rakyat dilapangan.
“Ukuran kemajuan Majene tidak boleh hanya dilihat dari wajah pusat kota. Sebab, masyarakat di desa, pesisir, pegunungan hingga wilayah pelosok juga memiliki hak sama untuk merasakan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Yudi mengutip pemikiran Bung Hatta tentang pentingnya pemerataan pembangunan.
“Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta. Tetapi Indonesia bercahaya karena lilin kecil di desa,” tutupnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada wilayah yang mudah terlihat. Justru, kata Yudi, wilayah yang selama ini sulit dijangkau harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Setahun sudah berlalu. Persoalannya kembali disampaikan. Pertanyaannya kini sederhana: Sampai Kapan Warga Harus Menunggu Akses Jalan Yang Layak?
Yudi harapkan HJM Ke-481 tidak kembali berakhir sebagai agenda tahunan semata. Tetapi menjadi titik awal lahirnya langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur yang selama ini dikeluhkan masyarakat. “Selamat Hari Jadi Majene ke-481.” (rls/Endy)








