MAJENE — Salah satu rumah makan tertua di jalur menuju Pantai Karamak, RM Warung Soppeng, berencana membangun cabang baru yang lebih dekat dengan bibir pantai, lengkap dengan gazebo untuk pengunjung.
Rencana ini disiapkan pemiliknya, Nurbayah, di atas lahan pribadi yang berada di kawasan Pantai Karamak, Desa
Bababulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, sebagai bentuk dukungan langsung terhadap upaya pengembangan wisata pantai tersebut.
RM Warung Soppeng sendiri bermula dari sebuah warung kecil berbahan bambu berukuran 5×3 meter yang semula hanya menjual bakso, sebelum berkembang bertahap dan resmi berdiri dalam bentuknya yang sekarang pada 2014.
Nurbayah memilih membuka usaha dijalur utama Makassar-Mamuju karena kawasan itu ramai dilalui kendaraan namun saat itu minim tempat persinggahan.
Rumah makan ini pula yang pertama kali memperkenalkan menu ikan ambu di kawasan tersebut, sebuah langkah yang belakangan turut mengubah nilai jual komoditas itu di pasaran.
Sebelum RM Warung Soppeng berdiri, ikan ambu dan ikan batu nyaris tak dilirik masyarakat dan hanya dihargai sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000.
Kini, harga ikan ambu bisa mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000, sementara ikan batu bahkan tembus hingga Rp100.000, seiring menu berbahan dua jenis ikan itu mulai diikuti rumah makan lain di sekitar kawasan.
Sebagai titik persinggahan di jalur lintas provinsi, RM Warung Soppeng sempat mengalami masa ramai pengunjung pada periode 2014-2018, jauh sebelum Pantai Karamak dikenal luas sebagai destinasi wisata. Dari sekian banyak warung yang pernah tumbuh di jalur tersebut pada masa itu, kini hanya tiga rumah makan yang bertahan, salah satunya RM Warung Soppeng.
Nurbayah mengakui, tingkat kunjungan ke rumah makannya saat ini tinggal sekitar 10 persen dibanding masa ramai tersebut. Menu andalan seperti pallu mara dan ikan bakar dengan sambal cobek khas tetap menjadi ciri yang menurut Nurbayah tidak dimiliki warung lain, dengan kisaran harga menu mulai dari Rp35.000.
Belakangan, kawasan di sekitar RM Warung Soppeng justru mendapat momentum baru setelah Pantai Karamak sempat viral dan ramai dikunjungi wisatawan pada 2025.
Meski popularitas pantai itu kini belum kembali seramai masa viralnya, Nurbayah melihat peluang jangka panjang dari keberadaan destinasi tersebut.
Alih-alih menunggu, ia memilih langkah lebih proaktif dengan menyiapkan lahan yang lebih dekat dengan pantai, seiring optimismenya bahwa penataan kawasan Pantai Karamak ke depan akan turut menghidupkan kembali kunjungan wisatawan sekaligus usahanya.
“Pantai Karamak itu ada lahannya juga punya kami, makanya kami siap membangun warung yang lebih dekat, masuk ke area pantai,” ujar Nurbayah.
Sebagian bahan baku ikan yang digunakan RM Warung Soppeng diperoleh dari Pasar Majene maupun Pasar Pamboang.
Nurbayah menjelaskan, hasil tangkapan nelayan Desa Bababulo sendiri umumnya lebih dulu dijual ke pasar-pasar tersebut sebelum akhirnya dibeli kembali olehnya, sehingga rantai pasoknya melalui dua tahap peralihan sebelum sampai ke dapur rumah makan.
Nurbayah berharap, rencana pembangunan warung baru di dekat Pantai Karamak dapat berjalan beriringan dengan pembenahan yang tengah disiapkan pemerintah desa.
Menurutnya, semakin banyak fasilitas dan usaha yang tumbuh di sekitar kawasan pantai, semakin besar pula peluang Pantai Karamak kembali menarik minat wisatawan sekaligus turut mengangkat UMKM kuliner lain di sekitarnya. (rls/as)










