MAJENE – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan program “Massulekka”, sebuah diskusi mendalam mengenai sejarah Mandar dari perspektif budaya dan agama. Kegiatan ini berlangsung di Kelurahan Sirindu, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Rabu (29/07/2026), sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap akar budayanya.
Program ini merupakan bagian dari KKN Tematik Inovasi Daerah Desa Wisata. Inisiatif tersebut muncul dari keprihatinan mahasiswa terhadap mulai memudarnya pemahaman sejarah lokal di tengah arus modernisasi.
Program Massulekka hadir sebagai jembatan informasi agar nilai-nilai luhur Mandar tidak tergerus zaman dan tetap dipahami oleh generasi muda.
Penanggung jawab program, Rini Astuti, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Unhas, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk membangun kembali kesadaran sejarah.
“Sejarah kebudayaan Mandar saat ini mulai memudar di era modern. Program ini dirancang untuk membangun kembali kesadaran masyarakat agar kebudayaan kita tidak hilang termakan waktu,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa berkolaborasi dengan budayawan Mandar terkemuka, A’ba Tammalele. Diskusi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Kelurahan Sirindu ini mengulas tuntas masa kejayaan Mandar, termasuk filosofi penyatuan tujuh kerajaan pantai (Pitu Ba’baana Binanga) dan tujuh kerajaan gunung (Pitu Ulunna Salu).
A’ba Tammalele menekankan betapa pentingnya memahami sistem pertahanan peradaban masa lalu. “Mandar memiliki sejarah yang sangat luar biasa. Pada pertengahan abad ke-17 dan 18, Mandar mampu menyatukan tujuh kerajaan pantai (Pitu Ba’baana Binanga) dan tujuh kerajaan gunung (Pitu Ulunna Salu) untuk memperkuat sistem pertahanan dalam dunia peradaban,” jelasnya di hadapan para peserta diskusi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik Unhas berharap muncul kesadaran kolektif yang kuat di masyarakat. Dengan pemahaman sejarah yang baik, diharapkan masyarakat Kelurahan Sirindu dapat melestarikan identitas lokal mereka secara berkelanjutan sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata daerah berbasis budaya. (rls/as)














