MAJENE —Aroma santan yang dimasak perlahan hingga mengeluarkan minyak masih menjadi rutinitas harian di salah satu rumah produksi di Desa Bababulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene.
Di sanalah Hasnawiyah menjalankan usaha minyak kelapa yang telah diwariskan turun-temurun dari neneknya sejak sekitar 40 tahun lalu, menjadikan usaha ini telah bertahan hingga empat generasi dalam keluarganya.
Dulu, proses pembuatan minyak kelapa dikerjakan serba tradisional. Selama sekitar 20 tahun, kelapa diparut menggunakan paku yang ditancapkan pada sebilah kayu, sebelum akhirnya keluarga ini beralih menggunakan mesin pabrik untuk mempercepat produksi.
Meski alat sudah lebih modern, tahapan produksinya tetap mempertahankan cara-cara lama. Kelapa yang dibeli dari sejumlah wilayah sekitar, termasuk Pamboang dan Somba, dikupas menggunakan alat tradisional berbahan besi, dipisahkan dari tempurungnya, lalu direndam dan dicuci sebelum diparut di pabrik keesokan harinya.
Hasil parutan kemudian dimasukkan ke dalam karung dan diperas menggunakan alat khusus hingga santannya keluar, sebelum dimasak dalam wajan berukuran besar mulai pukul enam pagi hingga santan tersebut berubah menjadi minyak sekitar tengah hari.
Dalam sehari, usaha ini mampu mengolah sekitar 120 butir kelapa yang menghasilkan dua hingga tiga jeriken minyak, tergantung kualitas kelapa yang digunakan membuat minyak kelapa Bababulo terus dicari pelanggan adalah kemurniannya.
Hasnawiyah memastikan produknya diolah 100 persen asli dari kelapa tanpa bahan pengawet maupun campuran apa pun, dengan daya tahan simpan hingga satu bulan.
Selain digunakan untuk memasak dan mencampur sambal, minyak ini juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan kecantikan, minyak urut, hingga minyak rambut, bahkan tak jarang dikirim hingga ke Jakarta untuk diperjualbelikan kembali. Tak hanya minyaknya, ampas dan sisa hasil produksi pun tetap laris dibeli pelanggan.
Permintaan terhadap minyak kelapa buatan Hasnawiyah pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsumen datang tak hanya dari warga sekitar Bababulo, tetapi meluas hingga Pinrang, Pare-Pare, dan berbagai daerah di Sulawesi, bahkan hingga ke luar pulau. Produk dijual dalam kemasan botol maupun jeriken, dengan harga satu botol Rp22.500 dan satu jeriken Rp170.000.
Sistem penjualannya pun cukup unik: pelanggan dari luar daerah umumnya membayar tunai begitu memesan, sementara pelanggan yang lebih dekat kerap mengambil dulu secara utang, menjualnya kembali di pasar, baru kemudian melunasi pembayaran kepada Hasnawiyah setelah produknya laku terjual.
Usaha ini kini menjadi tumpuan utama penghasilan keluarga Hasnawiyah, dengan dirinya dan sang anak sebagai dua orang yang menjalankan seluruh proses produksi.
Meski permintaan pasar terus tumbuh, satu tantangan yang masih dihadapi adalah soal kemasan. Produk minyak kelapa ini sebenarnya pernah dibuatkan label kemasan oleh mahasiswa KKN yang bertugas sebelumnya, namun kemasan tersebut tak lagi digunakan karena dianggap kurang praktis dibanding botol dan jeriken bekas yang mampu menampung lebih banyak minyak.
Ke depan, Hasnawiyah berharap ada perhatian dari pemerintah desa untuk membantu proses percetakan desain label kemasan, mengingat dirinya dan keluarga belum familiar dengan urusan desain maupun pencetakan semacam itu.
Ia berharap konsep produksi tetap sederhana, tetap menggunakan botol dan jeriken bekas agar biaya produksi tidak membengkak, dengan tambahan label sebagai satu-satunya elemen baru yang dibutuhkan.
Dengan sejarah panjang yang telah melewati empat generasi serta kemurnian produk yang menjadi kebanggaannya, minyak kelapa Bababulo terus menunjukkan potensi sebagai salah satu produk unggulan lokal yang mengangkat nama desa ini hingga ke berbagai daerah. (rls/as)














