MAJENE — Di Dusun Porendeang, Desa Bababulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, terhampar sebuah bukit yang menyimpan panorama alammenawan namun masih menanti sentuhan pengembangan.
Bukit Tanete, demikian warga setempat menyebutnya, mulai dilirik sebagai calon destinasi wisata alam baru di wilayah tersebut.
Nama “Tanete” sendiri diambil dari bahasa setempat yang berarti tanah tinggi atau daerah perbukitan, sesuai dengan kondisi geografis lokasinya.
Menurut Kepala Dusun Porendeang,Ishak, kawasan ini sebenarnya sudah lama dikenal warga, namun baru mulai aktif dimanfaatkan sejak tahun 2023 atas inisiatif pemuda setempat.
“Awalnya lokasi ini hanya menjadi tempat bermain layang-layang. Namun sejak 2023, pemuda karang taruna mulai melihat potensinya sebagai lokasi camping,” ujar Ishak.
Ia menambahkan, aktivitas bermain layang-layang di kawasan itu kini mulai berkurang seiring pergeseran kebiasaan anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawaI.
Panorama dari Ketinggian
Bukit Tanete berjarak sekitar 1,5 kilometer dari jalan poros menuju Desa Bababulo, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 20 menit dari pusat desa.
Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati pemandangan permukiman warga, hamparan laut, serta perbukitan sekaligus dalam satu titik. Keindahan ini disebut Ishak paling terasa saat matahari terbit maupun terbenam.
“Keunggulan Bukit Tanete ada pada pemandangannya, baik dari sore hari maupun saat sunrise di pagi hari,” katanya.
Untuk saat ini, aktivitas wisata yang paling banyak dilakukan di lokasi adalah berkemah (camping). Namun, dengan luas lahan bukit yang mencapai sekitar satu hektare, kawasan ini dinilai berpotensi pula dikembangkan untuk aktivitas paralayang.
Peluang Ekonomi bagi Warga
Jika dikembangkan secara serius, Bukit Tanete diyakini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Bababulo, mulai dari terbukanya peluang usaha di sepanjang jalur pendakian, penyewaan alat camping, hingga kemungkinan berdirinya kedai kopi di area puncak bukit.
Ishak menilai, pengelolaan ke depan sebaiknya melibatkan langsung pemuda setempat atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dengan penambahan fasilitas sederhana seperti ayunan, kursi, dan meja sebagai spot berfoto.
Tantangan yang Dihadapi
Meski potensinya cukup besar, pengembangan Bukit Tanete hingga kini masih terkendala keterbatasan anggaran dan tenaga pengelola.
Ishak mengungkapkan, rencana perbaikan kawasan ini sempat diusulkan masuk dalam anggaran desa, namun belum terealisasi karena pertimbangan skala prioritas dan efisiensi anggaran.
Selain itu, minimnya penunjuk arah membuat akses menuju lokasi masih sulit dikenali oleh wisatawan luar tanpa pendampingan warga lokal, meskipun jalur menuju bukit sudah dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dari Dinas Pariwisata Kabupaten Majene, agar potensi ini bisa benar-benar diwujudkan,” kata Ishak.
Harapan Warga
Di tengah keterbatasan yang ada, warga menaruh harapan besar terhadap masa depan Bukit Tanete. Ishak menyebut respons masyarakat terhadap rencana pengembangan kawasan ini terbilang positif, dan mereka siap mendukung apabila pengelolaan mulai dijalankan secara terorganisir.
Dengan segala potensi yang dimilikinya, Bukit Tanete diharapkan dapat menjadi salah satu aset wisata unggulan yang mampu mengangkat citra Desa Bababulo sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. (rls/as)














