MAJENE – Di balik pesona pesisir Desa Bababulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, tersimpan sebuah warisan budaya yang telah bertahan hampir satu abad. Adalah Minyak Pamboang Pusaka Mandar, minyak herbal tradisional yang telah diproduksi sejak 1928, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Lebih dari sekadar minyak gosok, produk ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Mandar yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini memasuki generasi keempat.
Berkat khasiatnya yang dipercaya masyarakat selama puluhan tahun, Minyak Pamboang Pusaka Mandar tidak hanya dikenal di Sulawesi Barat, tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Pengelola generasi keempat, Sukarman, menjelaskan bahwa sejarah Minyak Pamboang berawal dari kisah yang diwariskan oleh keluarga. Pendirinya, Haji Abdul Somad, dipercaya memperoleh petunjuk mengenai ramuan minyak tersebut melalui sebuah mimpi.
Berbekal keyakinan itu, beliau mulai meracik minyak dan menjualnya di pasar hingga mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, minyak ini juga pernah dikenal dengan nama “Minyak Parang” pada masa penjajahan Belanda.
Dikisahkan, seorang tentara Belanda yang mengalami keluhan pada kakinya mencoba menggunakan minyak tersebut dan merasakan manfaatnya. Sejak saat itu, minyak tersebut dikenal dengan nama “Minyak Parang”.
Cerita lain yang juga masih hidup di tengah masyarakat Mandar menyebutkan bahwa seekor kuda milik Kerajaan Balanipa yang mengalami sakit dan tidak mampu berdiri kembali pulih setelah diberikan minyak tersebut. Seiring berjalannya waktu, nama “Minyak Parang” kemudian berubah menjadi Minyak Pamboang, mengikuti identitas daerah asalnya yang kini dikenal sebagai Kecamatan Pamboang.
Nama “Pusaka Mandar” sendiri lahir dari masyarakat luar daerah yang menganggap minyak ini sebagai salah satu warisan berharga dari Tanah Mandar. Hingga kini, produk tersebut kerap dijadikan buah tangan maupun oleh-oleh khas bagi wisatawan yang berkunjung ke Majene.
Diracik dari Bahan Alami, Dipercaya Turun-Temurun.
Minyak Pamboang Pusaka Mandar menggunakan minyak kemiri sebagai bahan utama yang dipadukan dengan berbagai bahan herbal pilihan.
Seluruh bahan baku diperoleh dari wilayah Polewali Mandar, kemudian diolah di desa Bababulo menggunakan resep warisan keluarga yang telah dipertahankan sejak pertama kali diracik pada tahun 1928. Meski proses produksi kini telah mengikuti perkembangan teknologi melalui penggunaan peralatan yang lebih modern, seperti mesin untuk menggantikan proses penumbukan manual, racikan dan komposisi bahan tetap dipertahankan sesuai resep asli yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam setiap proses produksi, bahan-bahan herbal dimasak selama kurang lebih dua jam hingga menghasilkan warna hitam pekat yang menjadi ciri khas Minyak Pamboang. Seluruh rangkaian produksi, mulai dari pengolahan bahan hingga siap dikemas, membutuhkan waktu sekitar dua hari dua malam. Setiap kali produksi dihasilkan sekitar 500 botol, dan proses ini dilakukan dua kali setiap bulan, sehingga menghasilkan sekitar 1.000 botol per bulan.
Hampir seluruh produk tersebut langsung habis terjual untuk memenuhi permintaan pelanggan tetap maupun reseller dari berbagai daerah.
Secara turun-temurun, Minyak Pamboang Pusaka Mandar dipercaya masyarakat sebagai minyak herbal serbaguna yang dapat digunakan untuk pemakaian luar maupun dalam sesuai tradisi masyarakat Mandar. Untuk pemakaian luar, minyak ini umum digunakan sebagai obat gosok yang membantu memberikan rasa hangat pada tubuh serta membantu meringankan pegal linu, salah urat, nyeri otot, memar ringan, gatal-gatal, masuk angin, dan luka ringan.
Sementara itu, dalam praktik penggunaan tradisional yang berkembang dimasyarakat, minyak ini juga dikonsumsi sebanyak satu sendok teh sebagai penggunaan dalam sesuai kebiasaan yang telah diwariskan lintas generasi.
Kepercayaan masyarakat terhadap Minyak Pamboang Pusaka Mandar tercermin dari tingginya loyalitas pelanggan yang terus kembali membeli dan merekomendasikannya kepada keluarga maupun kerabat. Dengan harga yang terjangkau, yakni Rp15.000 perbotol ukuran 60 ml, produk ini telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia, dengan salah satu daerah berpermintaan tertinggi berasal dari kota Bontang, Kalimantan Timur.
Pemasarannya dilakukan melalui pelanggan tetap, reseller, serta media sosial seperti Facebook, menjadikan Minyak Pamboang Pusaka Mandar terus dikenal sebagai salah satu warisan herbal khas Mandar yang bertahan hampir satu abad.
Potensi Menjadi Ikon Oleh-Oleh Desa Wisata Sebagai produk yang sarat nilai sejarah dan budaya, Minyak Pamboang Pusaka Mandar dinilai memiliki potensi besar menjadi ikon oleh-oleh khas Desa Bababulo dan Kabupaten Majene.
Keberadaannya tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menjadi bukti bahwa produk tradisional mampu bertahan dan bersaing di tengah perkembangan zaman.
Sukarman berharap produk warisan keluarganya semakin dikenal masyarakat luas. Ia juga berharap adanya dukungan pemerintah dalam membantu mengaktifkan kembali legalitas produk, termasuk sertifikasi BPOM dan halal yang sebelumnya pernah dimiliki, sehinggajangkauan pemasaran dapat semakin luas.
“Kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal Minyak Pamboang Pusaka Mandar. Semoga pemerintah dapat membantu mengaktifkan kembali legalitas produk sehingga kami bisa mengembangkan usaha ini dan memperluas pemasaran,” ujar Sukarman.
Sebagai warisan yang telah bertahan hampir satu abad, Minyak Pamboang Pusaka Mandar bukan sekadar produk UMKM, melainkan simbol kearifan lokal masyarakat Mandar yang terus hidup hingga saat ini. Dengan sejarah panjang, resep yang tetap terjaga, serta kepercayaan masyarakat yang diwariskan lintas generasi, minyak tradisional ini memiliki.
potensi besar menjadi produk unggulan sekaligus oleh-oleh khas Kabupaten Majene. Sejalan dengan pengembangan Desa Bababulo sebagai desa wisata, Minyak Pamboang Pusaka Mandar diharapkan semakin dikenal luas sebagai buah tangan yang tidak hanya membawa kehangatan, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang budaya, tradisi, dan warisan masyarakat Mandar. (rls/as)














