Oleh :Arifuddin Samual
Kalau Anda berdiri di pesisir Mandar saat matahari terbit, mungkin Anda akan melihat siluet perahu ramping dengan layar putih menjulang. Dialah Sandeq, perahu kebanggaan orang Mandar yang sejak dulu setia membelah ombak.
Bagi masyarakat Mandar, Sandeq bukan sekadar alat melaut. Ia adalah identitas. Dengan tubuh runcing, dua pengimbang di kanan-kiri, dan layar segitiga besar, Sandeq bisa melaju kencang menantang angin. Tak heran kalau banyak peneliti menyebutnya sebagai perahu layar tradisional tercepat di dunia.
Filosofi Terpahat Dalam Setiap Bagian Sandeq
Lebih menakjubkan, teknik membuat Sandeq sama sekali tidak punya rumus pakem. Para pembuat perahu Mandar hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun dan kepekaan rasa. Mereka meraba kayu, menakar panjang, mengukur lengkung, lalu merakit bagian demi bagian hingga terbentuk perahu yang aerodinamis alami. Setiap Sandeq lahir bukan dari hitungan matematis di atas kertas, tapi dari intuisi dan filosofi hidup yang mengalir dari para pandai perahu.
Filosofi ini tidak tertulis dalam rumus matematika, melainkan terpatri dalam cara pandang para pembuat perahu tradisional Mandar. Mereka tidak hanya membuat perahu, tetapi juga memahat nilai-nilai spiritual dan kosmologi ke dalamnya, yaitu filosofi huruf Alif, Lam, dan Hu.
Alif (أ): Diwakili oleh tiang layar utama perahu yang tegak lurus. Alif melambangkan keesaan dan ketauhidan Tuhan, yang mengajarkan bahwa dalam setiap perjalanan dan tantangan di lautan, manusia harus selalu ingat pada Sang Pencipta.
Lam (ل): Terletak pada kemudi perahu yang melengkung. Lam melambangkan hubungan horizontal manusia dengan sesama. Kemudi berfungsi mengarahkan perahu, mewakili peran manusia dalam menjalani hidup, di mana harus ada tujuan, arah, dan interaksi yang baik dengan orang lain.
Hu (هُـ): Diwujudkan pada bentuk bodi perahu yang ramping dan aerodinamis. “Hu” merujuk pada Tuhan yang Maha Gaib, yang kekuatannya tidak terlihat namun ada di mana-mana. Bentuk bodi yang dibuat dari intuisi para pembuatnya melambangkan kekuatan tersembunyi yang membuat perahu ini mampu melaju kencang, mengajarkan bahwa kekuatan sejati juga berasal dari keberkahan Tuhan.
Sandeq dan Gen Laut Mandar
Sejak ratusan tahun lalu, Sandeq jadi sahabat orang Mandar untuk mengejar ikan, mengangkut barang dagangan, bahkan menyeberang ke pulau-pulau jauh. Laut adalah jalan raya biru, dan Sandeq adalah kendaraan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Kini, lewat ajang Sandeq Silumba 2025, warisan itu kembali hidup. Puluhan perahu runcing kembali berpacu, disambut sorak-sorai warga yang memadati pantai. Bagi orang Mandar, ini bukan sekadar lomba, tapi festival budaya: ada musik, doa, kuliner, dan rasa bangga yang tak pernah padam.
Tentu, tantangan modern tetap ada. Banyak nelayan beralih ke kapal motor yang lebih praktis, bahan kayu untuk membuat Sandeq pun makin mahal. Tapi di tengah semua itu, muncul Gen Laut Mandar—mereka yang memilih merawat tradisi lewat festival, konten digital, sampai pameran budaya internasional.
Bagi Gen Laut Mandar, Sandeq bukan perahu tua yang tinggal kenangan. Ia adalah simbol keberanian, kecerdikan, dan semangat untuk terus melaju. Seperti filosofi layar yang terbentang: hidup harus seimbang, berani membaca arah angin, dan tak gentar meski ombak besar menghadang.
Selama laut masih ada, Sandeq akan terus berlayar—di samudera Mandar, dan di hati setiap generasi yang mencintainya.